Feeds:
Pos
Komentar

Archive for the ‘Berita Seputar Seks Terkini’ Category

Insya Allah saya akan mengisi blog ini setelah saya tinggal pergi selama lebih kurang 4 bulan, dan akan saya sambung lagi insya Allah. Kalau tidak memungkinkan Anda bisa baca di link saya yang juga sama produksi : http://www.kaferemaja.wordpress.com :)

Iklan

Read Full Post »

Baru-baru ini ditemukan cabe yang berbentuk Mr. P, ah yang bener aja. Kiamat semakin dekat.

Read Full Post »

Presiden Srilanka Mahinda Rajapakse melarang penayangan situs pornografi di negara itu. Sebelumnya, Srilanka pernah meminta regulator untuk memblokir akses situs Gerakan Saparatis Tamil.

“Tujuannya, untuk mencegah anak-anak melihat tayangan porno melalui internet,” kata Priyantha Kariyapperuma, Komisi Regulasi Telekomunikasi negara itu, mengutip pernyataan Rajapakse.

Untuk mendukung kebijakan itu, kata Kariyapperuma, ia meminta layanan jasa provider di Srilanka untuk menyaring penayangan situs porno itu. “Jika ada orang dewasa yang menginginkannya, mereka harus membayar dan perusahaan jasa provider akan memberikan password,” katanya.

Srilanka berpenduduk 20 juta jiwa dan pengguna internet di negara itu mencapai 200.000 orang.(SHA/ANTARA)

Read Full Post »

BERITA – berita-dunia.infogue.com – SETAHUN yang lalu, Janet Kimani masih menghabiskan hari-harinya di sekolah atau bertengkar dengan adik laki-lakinya soal acara televisi. Tidak ada lain yang dipikirkan kecuali dunia anak-anak yang menyenangkan.

Namun, saat ini ia menghabiskan siang harinya dengan tidur karena malam nanti ia harus menjual tubuhnya. Ya, Janet harus mengaryakan tubuh kurusnya yang baru berusia 14 tahun demi 160 shilling Kenya (setara dengan Rp 27.000) untuk satu jam layanan syahwat.

“Sekarang banyak gadis seperti saya bekerja di jalanan,” kata Janet ketika ditemui di pinggir jalan salah satu sudut Eldoret, sebuah kota di bagian barat Kenya, pekan lalu.

Prostitusi dan eksploitasi seksual saat ini sedang “naik daun” ketika kerusuhan berdarah mencabut nyawa lebih dari 1.000 warga Kenya akhir tahun lalu, termasuk di Eldoret. Kerusuhan itu menghancurkan perekonomian dan menyeret warga Kenya ke jurang kemiskinan.
Pada saat seperti itu, seperti di tempat lain, ribuan anak dipaksa meninggalkan sekolah dan bekerja di jalanan untuk menyambung hidup. Janet salah satu di antara mereka.

Tidak ada angka yang pasti berapa ratus atau ribu anak gadis terjerumus dalam prostitusi. Yang jelas, fenomena ini membuat miris para aktivis kemusiaan dan dokter karena sudah dapat dipastikan angka korban HIV/AIDS meroket.

“Dengan berjalannya waktu, kami mulai merasakan dampak konflik ini, yakni HIV dan AIDS,” kata Teresa Omondi, Kepala Pusat Pemulihan Kekerasan Gender di Rumah Sakit Perempuan Nairobi.

Sebuah laporan yang dipublikasikan lembaga itu menjadi semacam tanda bahaya. Disebutkan, sudah ada ketakutan bahwa prestasi mengurangi prevalensi HIV di Kenya akan musnah sia-sia. Dewan Pengawas AIDS Nasional Kenya juga menggelar studi dampak kekerasan ketika perkosaan massal dan kejahatan seksual lain terjadi selama kerusuhan itu.
Sejumlah pekerja seks belia yang diwawancarai mengaku bekerja tanpa kondom karena saat ini persaingan semakin keras karena semakin banyak teman sebaya dan senasib mereka turun ke jalan.

“Memang kami biasanya pakai kondom, tetapi ada kalanya tidak,” kata Milka Muthoni (17). Gadis ini sebenarnya butuh setahun lagi untuk menyelesaikan SMA, tetapi tekanan ekonomi membuat pendidikannya terhenti dan memilih menjual tubuh.

“Saya tahu ini bisnis yang berisiko. Suatu kali saya pergi ke rumah sakit dengan beberapa luka dan penyakit. Tapi bagaimana lagi, saya tidak punya pilihan lain,” katanya.

Milka yang tinggal di Eldoret mengaku diusir dari rumah ketika orangtuanya tahu ia menjual diri. “Tetapi sekarang saya belanja untuk mereka, jadi mereka tidak tanya-tanya lagi dari mana saya mendapat uang,” tuturnya.

Pertumpahan darah itu pecah menyusul sengketa hasil pemilu pada 27 Desember 2007 dan itu menjadi saat paling kelam dalam sejarah Kenya sejak merdeka dari Inggris pada 1963. Sengketa politik itu berujung pada kerusuhan dan perkelahian antaretnis yang akhirnya mengungkap lebarnya jurang pemisah antara si kaya dan si miskin.

Memang akhirnya pembagian kekuasaan di antara para elite menghentikan konflik ini. Presiden Mwai Kibaki tetap menduduki kursinya, sementara lawan politiknya, Raila Odinga, menjadi perdana menteri. Namun, Kenya telanjur kehilangan 1 miliar dollar karena kerusuhan ini meski sekarang pelan-pelan perekonomian pulih dan turis kembali memadati pantai-pantai di tepi Samudra Hindia.

Sayangnya kerusakan nyaris mustahil dipulihkan seperti semula. Ribuan warga Kenya masih tinggal di pengungsian, setelah kabur dari desa ketika kerusuhan datang. Banyak siswa tidak kembali ke kelas atau putus sekolah karena tidak bisa lagi membayar uang sekolah yang naik mengikuti harga bahan bakar minyak.

Musai Ndunda, Ketua Asosiasi Orangtua Kenya, mengatakan, sekitar 40.000 siswa usia SMP putus sekolah Februari lalu. Itu angka terakhir yang bisa didapat. Ia yakin masih banyak yang tidak tercatat. Mungkin juga sudah ada yang kembali ke sekolah tetapi keluar lagi.

Bagi Janet, kembali ke Kiambaa Primary School bukan termasuk pilihan yang bisa diambil karena gedung itu sudah rata dengan tanah setelah dibakar massa saat kerusuhan.

Dia sempat sebulan tinggal di kamp penampungan di Eldoret. Sampai kemudian ia mengamati temannya, Nyambura, selalu punya makanan dan pakaian bagus meski sama-sama tinggal di kamp. Suatu hari, Nyambura mengakui ia menjual tubuhnya dan mengajak Janet mengunjungi tempat kerjanya, sebuah pub.

“Sebenarnya saya enggan, tapi Nyambura meyakinkan saya bahwa laki-laki itu akan membayar. Saya belum pernah minum alkohol, tetapi saya sangat butuh uang, jadi saya ikut saja,” tutur Janet mengenang hari pertamanya masuk dalam kehidupan malam.

Malam itu keperawanannya dihargai 1.000 shilling atau sekitar Rp 170.000. Dia membawakan makanan untuk kedua orangtua dan enam saudaranya. Saat itu ia mengaku punya pekerjaan di kota, tetapi tidak memberi tahu pekerjaan apa dan mereka pun juga tidak bertanya.

“Orangtua saya sudah miskin, bahkan sebelum kerusuhan. Mereka tidak bisa membeli bahan-bahan kebutuhan. Sekarang, dengan saya di jalanan, kalau sedang untung ya bisa bawa pulang 2.000 shilling. Itu setelah tidur dengan lima atau enam pria,” katanya.
Janet jelas tidak punya harapan kembali ke sekolah. Orangtuanya tidak punya pekerjaan sehingga penghasilan Janet sangat penting untuk menyambung hidup keluarganya. “Memang pekerjaan ini awalnya sangat menyiksa. Tidur dengan pria-pria itu sangat mengerikan karena kadang-kadang mereka juga kasar dan menyakiti saya. Tapi kelamaan saya terbiasa,” katanya.
Prostitusi memang sudah lama menjadi persoalan di Kenya, khususnya di kawasan wisata. Agnetta Mirikau, aktivis perlindungan anak di UNICEF Kenya, mengatakan, peningkatan jumlah pelacur anak mudah terlihat di kota-kota yang paling parah tingkat kerusuhannya, seperti Eldoret, Naivasha, dan Nakuru.

Eldoret merupakan lokasi kerusuhan paling keras dan berdarah seusai pemilu. Di kota ini sebuah gereja dibakar, padahal gedung itu dipenuhi orang yang sedang mencari perlindungan. Puluhan orang tewas dalam insiden itu.

“Orang-orang dewasa sekarang mengumpankan anak-anaknya karena mereka tidak punya penghasilan apa pun. Anak-anak putus sekolah dan mereka ingin membantu menghasilkan sesuatu untuk orangtuanya. Jika tidak ada makanan dan mereka merasa bertanggung jawab atas nasib saudara-saudaranya, maka mereka akan keluar rumah dan mencari uang untuk beli makanan,” kata Mirikau.

Wali Kota Eldoret Sammy Rutto baru-baru ini memerintahkan polisi memberantas prostitusi setelah mendengar ada gadis 12 tahun terlihat nongkrong di bar. “Ini bisnis yang tidak bisa kami biarkan. Mereka harus mencari alternatif lain untuk hidup. Pelacuran pasti akan memperluas penyebaran AIDS, dan banyak orangtua kehilangan anak-anaknya,” kata Sammy.
Pertanyaannya, apakah alternatif itu ada, atau bisakah pejabat seperti Sammy Rutto dan politisi yang berebut kekuasaan itu menyediakan pekerjaan lain yang tidak berbahaya.

Read Full Post »

Sana`a (ANTARA News) – Pada masa keemasan Islam yang dipimpin oleh tokoh-tokoh Muslim yang sebagian besar dari bangsa Arab, sumber ilmu pengetahuan hampir seluruhnya berasal dari timur (negeri Muslim).

Barat yang masih dalam masa kegelapan kala itu belajar banyak ilmu dari Arab seperti kedokteran, ilmu aljabar, ilmu astronomi, kimia, fisika, politik, sosial, psikologi dan sejumlah disiplin ilmu lainnya.

Apakah termasuk juga pendidikan seksual yang saat ini masih tabu dibicarakan secara terbuka di kalangan masyarakat Arab?


Menurut DR Fauziah Al-Dare, pendidikan seksual berkualitas secara Islami berasal dari kawasan Arab yang kemudian juga dicontoh masyarakat Barat.

“Pendidikan seksual juga dari Arab, seperti ilmu-ilmu lain layaknya aljabar dan kimia. Buktinya, Dewan Senat Inggris pernah melarang penerjemahan pendidikan seksual Arab ke dalam bahasa Inggris pada tahun 1865,” kata perempuan doktor spesialis pendidikan seksual asal Kuwait itu kepada TV Alarabiya, Dubai Jumat (30/3).

Dalam paket acara “idha`at” (sorotan) yang disiarkan langsung setelah shalat Jumat itu, doktor tamatan Fakultas Ilmu Jiwa Jurusan Pendidikan Seksual di Universitas York, Inggris, tersebut menilai bahwa Islam adalah agama yang paling banyak mengupas tentang pendidikan seks.

Paket acara TV Arabiya tersebut dikhususkan untuk mengupas berbagai isu yang menjadi sorotan publik Arab. “Pada tahun 1850, ditemukan sebuah buku bahasa Arab yang mengupas tentang seks di Prancis, lalu diterjemahkan ke dalam bahasa Prancis,” katanya lagi.

DR. Fauziah yang membahas tentang pendidikan seks lewat paket tetapnya bertajuk “siratul hub” (biografi cinta) di TV Alraai, Kuwait menimbulkan pro-kontra di kalangan masyarakat negaranya.

Salah satu tema yang pernah dibahas dalam paket itu yang mendapat reaksi dari media massa setempat adalah tentang besar dan panjangnya alat vital laki-laki. Tapi, sang doktor tetap tidak bergeming, dan menilai apa yang disampaikannya masih sebatas koridor syariat Islam.

Pakar seks Arab yang sekarang selalu memakai jilbab itu, yang menyelesaikan S2 di Amerika Serikat (AS), juga menjelaskan masa-masa studinya di negeri Paman Sam tersebut dan kehidupan pribadinya sebelum memakai jilbab.

Tentang program “siratul hub” yang dibawakannya, ia menjelaskan bahwa bertujuan memberikan pemahaman kepada publik agar tidak terpengaruh iklan-iklan yang menyesatkan.

“Saya melihat beberapa iklan di majalah tentang alat vital pria, karena itu saya perlu mengupasnya dalam salah satu tema program tersebut agar jelas bagi publik bahwa ukuran alat vital tidaklah sebagai ukuran kepuasan hubungan seksual,” katanya.

Fauziah menegaskan bahwa tema tentang alat vital itu merupakan yang paling sulit dibawakannya dalam paket program rutin biografi cinta.

“Yang jelas, saya melihat publik semakin mengerti permasalahan ini,” katanya lagi.

Meskipun pengupasan tentang pendidikan seks secara terbuka di masyarakat Kuwait dan Arab umumnya masih tabu, namun ia menegaskan, akan tetap melanjutkan program rutinnya “siratul hub”, karena keyakinan akan pentingnya pendidikan yang satu ini bagi publik Arab. (*)

Read Full Post »

Jakarta – Truman Capote. Ia adalah penulis legendaris di Amerika Serikat (AS).  Ia seorang gay. Tapi semasa hidupnya banyak membuat karya spektakuler dalam menulis.

Nama Truman Capote melejit lewat karya adiluhungnya ‘In Cold Blood’, sebuah kisah nyata yang diangkat dari kasus pembunuhan berdarah dingin tahun 1959 yang terjadi di Holcomb, Kansas Barat.

Pria kelahiran New Orleans, 30 September 1942 ini punya keinginan  sangat dalam untuk menyajikan hasil reportase dalam bentuk novel.

Truman Capote juga  menuai sukses dari novel pertamanya Other Voices, Other Rooms sehingga menempatkan dirinya berada di papan atas penulis sastra Amerika.

Saat menggarap karya spektakulernya “In Cold Blood” Truman butuh waktu 6 tahun untuk mereportase kasus pembunuhan berdarah dingin yang paling sadis terjadi di AS tahun 1959. Buku setebal 474 halaman itu kemudian terpilih sebagai salah satu buku terbaik sepanjang masa versi Modern Library, April 1996.

Karena kesohornya buku tersebut, kisah penggarapan In Cold Blood difilmkan. Bahkan kisah hidup Truman Capote sendiri pun difilmkan dalam ‘Capote’ (2005) dan “Infamous’ (2006).

Sejumlah kesuksesan itu seolah menutup semua pandangan miring tentang orientasi seksual Truman Capote yang penyuka kaum sejenis.

Kisah lain seorang homoseksual yang tetap hidup ‘normal’ adalah Irshad Manji. Ia adalah seorang feminis muslim yang dengan terang-terangan mengaku lesbian. Ia meneriakkan protes keras terhadap pelanggaran atas nama Islam di kalangan perempuan dan kelompok minoritas termasuk kelompok homoseksual.

Melalui buku “Beriman Tanpa Rasa Takut: Tantangan Umat Islam Saat Ini”, Irshad coba melakukan protes keras atas ketidakadilan atas nama agama.

Hidup di keluarga Islam dengan superioritas seorang Ayah, Irshad tumbuh menjadi gadis yang tidak memimpikan laki-laki. Dididik dalam keluarga di mana perempuan diperlakukan dengan banyak hal yang pedih karena kekuasaan ayah yang sewenang-wenang, Irshad tidak menolak hubungan cinta sesama.

Tahun 1990, setelah lulus S-1 dengan penghargaan untuk bidang sejarah pemikiran dari University of British Columbia, Irshad yang secara terbuka mengatakan dirinya lesbian lebih banyak berkecimpung dalam dunia jurnalistik. Dia jadi pembawa acara (host) di Vision TV, lantas jadi produser dan host di City TV, Toronto. Pada usia 24 tahun, dia jadi editor di koran terbesar di Kanada, Ottawa Citizen.

Sejak Januari 2008 Irshad bergabung dengan New York University dan mendirikan serta memimpin The Moral Courage Project yang membantu generasi muda memperjuangkan kebenaran dan memberdayakan diri.

Pemikirannya yang kritis terhadap Islam ortodoks dan perjuangannya membela hak-hak asasi manusia—terutama di kalangan perempuan Muslim—membuat aktivis ini memperoleh banyak dukungan. Ia kemudian berhasil memperoleh  gelar doktor honoris causa dari Universtity of Washington, Mei tahun ini.

Tapi di sisi lain,  di mata kalangan Islam fundamental, Irshad Manji disebut tidak lebih dari seorang provokator yang menyebarkan tafsir setan atas Al Qur’an. Maka sikap kritis yang disuarakan Irshad itu harus ditebus dengan munculnya berbagai ancaman dari kalangan Muslim radikal.

Sebagian besar ancaman berasal dari Pakistan, Mesir, dan kelompok Muslim di Eropa, seperti Inggris, Perancis, dan Jerman. Bahkan rumahnya di Kanada dipasangi jendela antipeluru. Dengan kata lain, hidupnya saat ini sering dalam situasi bahaya. Itu sebabnya ia memilih tidak menikah dan punya anak.

Lalu bagaimana dengan Indonesia dengan kehadiran tokoh-tokoh gay?

Menurut Dodo, seorang tokoh gay di Indonesia, meski masih ada tindakan diskriminatif dari masyarakat terhadap seorang LGBT, tapi kondisinya  jauh lebih baik dibanding negara lain yang juga mayoritas penduduknya muslim.

Sementara Marcel, seorang gay yang bekerja sebagai konsultas di bidang kesehatan keluarga menjelaskan, sikap masyarakat Indonesia terhadap kalangan homoseksual maupun lesbian jauh lebih toleran di banding masyarakat Amerika. Sebab saat kuliah di Amerika, ia sering melihat tindak kekerasan anggota masyarakat Amerika terhadap kalangan homoseksual.

Masyarakat di sana menyebut mereka dengan sebutan “Gay Bashing”. Mereka adalah masyarakat Amerika yang anti gay. “Mereka sering memukuli dan menyiksa kalangan homoseksual di sana (AS). Kalau di Indonesia paling dikucilkan atau diledek saja,” jelas Marcel.(ddg/iy)

Read Full Post »

Jakarta Beberapa kali pose seksi Sarah Azhari tersebar di media ternyata berpengaruh pada kejiwaan anak tunggalnya. Sarah mengaku kini anak lelakinya trauma.

Menurut adik kandung Ayu Azhari itu putranya Albani takut ketika melihat lampu kamera. Hal itu bermula ketika foto-foto Sarah yang diambil oleh kamera tersembunyi di kamar mandi beredar tahun 2003 silam.

“Ya dia trauma saat foto-foto aku yang waktu di kamar mandi itu dicuri. Kan muncul tuh di koran-koran. Teman-temannya banyak yang nanya. Ya tapi kataku ‘Ya mau bagaimana lagi nak?’,” ujarnya saat berbincang dengan detikhot di Cafe Pisa Menteng, Selasa (29/7/2008).

Untungnya masalah yang dialami Albani tidak berkepanjangan. Anak laki-laki 8 tahun itu kini juga mulai kritis terhadap penampilan sang mama. Tak jarang Albani memprotes penampilan Sarah jika ia rasa terlalu seksi.

“Katanya kurang comfortable kalau aku pakai kayak gitu,” ujar Sarah lagi.

Walaupun begitu belum ada keinginan Sarah untuk mengubah gaya berpakaiannya. Namun menurutnya akan ada waktunya ia meninggalkan semua pakaian seksinya.(kee/kee)

Read Full Post »

Older Posts »