Feeds:
Pos
Komentar

Belumlah reda perdebatan seputar rencana Pemerintah untuk melakukan legalisasi (pengesahan) aborsi atau pengguguran kehamilan melalui revisi UU Kesehatan, yang dikhawatirkan oleh sejumlah kalangan hanya akan semakin menyuburkan praktik pergaulan bebas, kini kita dibombardir oleh perdebatan seputar agenda Pemerintah melalui BKKBN untuk melaksanakan program “kondomisasi”, yang kali ini antara lain diwujudkan dengan pendirian sejumlah ATM (Anjungan Tunai Mandiri/Automatic Teller Machine) Kondom di sejumlah kota besar dan daerah, di samping pembagian kondom secara cuma-cuma alias gratis kepada sejumlah kalangan masyarakat.

Sampai saat ini BKKBN menyediakan 200.000 gross kondom gratis (1 gross berisi 144 kondom), yang sekitar 80%-nya telah dikirim ke semua provinsi. Di Bogor Jawa Barat, misalnya, pembagian kondom gratis telah dilakukan bertepatan dengan Hari AIDS se-dunia bulan Desember lalu. Sebanyak 282 boks kondom dibagi-bagikan secara gratis oleh Dinas Kesehatan bekerjasama dengan Global Pant serta Dinas Informasi Kepariwistaan dan Kebudayaan Kota Bogor kepada hotel, losmen, serta wisma. Kondom gratis juga dibagikan kepada kelompok waria dan kaum gay di Kota Bogor. Disebutkan, pembagian kondom itu juga sesuai dengan keputusan Menteri Tenaga Kerja dan Transmigrasi Republik Indonesia melalui Surat keputusan Skep 68/MEN/IV/2004 tentang Pencegahan dan Penanggulangan HIV AIDS di tempat kerja. (Media-indonesia.com, 26/12/2005).

Di samping itu, Pemerintah melalui BKKBN telah dan sedang berencana mendirikan ATM Kondom di Jakarta, Jawa Tengah, Jawa Barat, Jawa Timur, Bali, NTB, Lampung, Riau, Papua dan Papua/Jaya Irian Barat. Khusus di Jawa Barat, rencananya dipasang 10 ATM Kondom, yang salah satunya di tempat pelacuran sekelas Saritem, sebagai upaya meningkatkan partisipasi pria terhadap KB sekaligus menekan penyakit menular seksual termasuk HIV/AIDS. (Bkkbn.go.id, 27/11/2005).

ATM Kondom yang dibangun oleh BKKBN ini merupakan sumbangan dari sebuah produsen kondom. Cara kerja alat ini mirip dengan sebuah telepon umum; setiap calon pembeli kondom diwajibkan untuk memasukkan tiga keping uang logam Rp 500,- untuk mendapatkan tiga kotak kondom dengan tiga jenis rasa. (Beritajakarta.com, 19/12/2005).

Pemerintah punya alasan. Program “kondomisasi” yang diwujudkan dengan pembagian kondom gratis dan pendirian sejumlah ATM Kondom adalah dalam rangka mencegah penyebaran virus HIV/AIDS. Untuk itu, BKKBN terus-menerus melakukan kampanye penggunaan kondom yang dikenal dengan sebutan “Promosi Kondom Dual Proteksi”. Intinya, selain mencegah kehamilan, kondom juga dipromosikan dapat mencegah penularan HIV/AIDS. “Tujuan kami jelas, untuk mencegah penularan HIV/AIDS,” ujar Kepala BKKBN Pusat Dr. Sumarjati Arjoso SKM dalam peringatan Hari AIDS Sedunia beberapa waktu lalu. (Cybermed.cbn.com, 4/12/2005).

Tak urung, sejumlah ulama di Tanah Air telah mengajukan penolakannya terhadap keberadaan ATM Kondom. MUI Jawa Barat dan PP Persis, misalnya, kembali menegaskan sikap penolakannya terhadap keberadaan ATM Kondom, karena khawatir disalahgunakan untuk pelacuran; sebab sarana itu bisa bebas diakses siapa saja. Pernyataan sama juga dikemukakan Kabid Tarbiyah Pengurus Pusat (PP) Persis, Dr. H.M. Abdurrahman, yang mendampingi Kiai Hafizh. (Pikiran Rakyat, 5/1/2006).

Fakta Penyebaran HIV/AIDS

Data United Nations Programme on HIV/AIDS (UNAIDS) menyebutkan, pada akhir tahun 2004, terdapat 39,4 juta orang dengan HIV/AIDS di seluruh dunia. Sebanyak 17,6 juta (45%) adalah perempuan dan 2,2 juta adalah anak-anak berusia kurang dari 15 tahun. Adapun Indonesia yang berpenduduk 220 juta jiwa, hingga akhir September 2005 sudah memiliki 8.251 kasus HIV/AIDS, terdiri dari 4.065 kasus HIV dan 4.186 kasus AIDS. (Cybermed.cbn.com, 4/12/2005).

UNAIDS melaporkan bahwa Indonesia memasuki tahap awal epidemi (wabah) AIDS. Menurut lembaga itu, penyebaran tercepat penyakit itu melalui pertukaran jarum suntik pada pengguna narkotika, serta pelacur dan para pelanggannya. (Tempointeraktif.com, 28/11/2005).

Menurut Armyn Nurdin, Wakil Ketua Komisi Penanggulangan AIDS, banyak lembaga dan para pakar telah memperkirakan skenario terburuk jika Indonesia tidak dapat menanggulangi penyakit ini. “Tahun 2010 diperkirakan 5 hingga 10 juta orang akan terinfeksi HIV/AIDS,” kata Armyn. Sejak kasus pertama di Bali 18 tahun lalu, kata Armyn, peningkatan jumlah orang dengan HIV/AIDS (ODHA) di Indonesia sangat cepat. Hingga akhir September lalu, Departemen Kesehatan melaporkan 8.251 ODHA yang terdeteksi, sebanyak 4.065 orang terinfeksi HIV dan 4.186 telah dinyatakan AIDS. “Kebanyakan adalah PSK (pekerja seks komersil),” ujarnya. (Tempointeraktif.com, 18/11/2005).

Logika Keliru

Katakanlah niat Pemerintah benar, program “kondomisasi” adalah didasarkan pada alasan untuk mencegah penyebaran HIV/AIDS. Namun demikian, alasan seperti ini tidak sepenuhnya logis karena beberapa hal. Pertama: Akar penyebab penyebaran HIV/AIDS adalah seks bebas (pelacuran, gonta-ganti pasangan, pergaulan bebas, homoseksualitas/lesbianisme). Karena itu, perang terhadap seks bebas inilah yang seharusnya dilakukan Pemerintah, bukan dengan program “kondominasi” yang lebih banyak ditujukan kepada pasangan yang bukan suami-istri.

Kedua: Program “kondomisasi” belum terbukti ampuh dalam mengurangi penyebaran HIV/AIDS. Di negara-negara Barat, meski program serupa sudah lama berlangsung, penyebaran HIV/AIDS di sana tetap tinggi dan terus meningkat.

Ketiga: sebagaimana legalisasi (pengesahan) aborsi, program “kondomisasi” yang antara lain diwujudkan dengan pendirian sejumah ATM Kondom hanya akan menyuburkan perilaku seks bebas, khususnya di kalangan anak-anak muda. Dengan berbagai kemudahan mendapatkan kondom, anak-anak muda akan merasa lebih “aman” melakukan seks bebas. Para remaja putri, misalnya, yang terjerumus ke dalam pergaulan bebas tidak akan lagi merasa khawatir hamil atau tertular HIV/AIDS, karena toh kondom-yang dipropagandakan sebagai dapat mencegah HIV/AIDS, di samping mencegah kehamilan-kini mudah mereka dapatkan. Bahkan boleh jadi, anak-anak muda yang tadinya tidak pernah melakukan seks bebas pun akan tergoda dan mulai coba-coba melakukan seks bebas dengan berbekal kondom yang sudah bisa didapatkan secara mudah dan bebas.

Keempat: Sebagian pakar kedokteran masih meragukan efektivitas kondom dalam mencegah HIV/AIDS. Alasannya, pori-pori karet lateks yang menjadi bahan pembuatan kondom adalah 0,003 mm, sedangkan ukuran virus AIDS adalah 0,000001 mm. Perbandingan keduanya adalah seperti pintu gerbang yang besar dengan seekor tikus. Logikanya, “tikus” dengan sangat mudah bisa mondar-mandir di “pintu gerbang” yang sangat besar itu tanpa halangan sedikit pun. Memang, konon bahan lateks untuk kondom dibuat lebih baik sehingga pori-porinya bisa lebih kecil daripada virus AIDS. Namun, dengan adanya tekanan saat dipakai, atau akibat gesekan, kondom tetap saja bisa kebobolan. Apalagi sejak awal kondom memang hanya efektif untuk mencegah masuknya sperma ke dalam rahim, dan belum terbukti efektif untuk mencegah berbagai penyakit kelamin, apalagi HIV/AIDS yang sampai saat ini belum diketahui serum untuk mengatasinya.

Liberalisasi Budaya Barat (Seks Bebas)

Sebagaimana legalisasi aborsi, program “kondomisasi” disinyalir hanya merupakan alat untuk menyuburkan liberalisasi budaya Barat, khususnya seks bebas, di Indonesia. Program ini seolah berjalan seiring dengan semakin bebasnya pornografi dan pornoaksi di tengah-tengah masyarakat kita. Kita tahu, VCD porno, majalah porno, dan film-film/sinetron semi porno sudah lama menyapa masyarakat. Pemerintah pun seolah membiarkan fakta-fakta tersebut. Bahkan RUU tentang Pornografi dan Pornoaksi pun sampai kini urung disahkan. Sekarang, bermunculan ATM Kondom. Kloplah sudah. Jika sudah begitu, bagaimana masyarakat tidak menyimpulkan bahwa semua itu pada akhirnya hanya akan mengarah pada semakin liberalnya seks bebas di tengah-tengah masyarakat kita, khususnya generasi muda.

Wahai kaum Muslim:

Kita harus berani mengatakan, bahwa gagasan ATM Kondom secara tidak langsung sama artinya dengan menyuruh atau membenarkan orang berbuat zina. Kita jangan sampai terjebak dengan program “kondomisasi” melalui ATM. Sebab, cara seperti itu tidak akan pernah efektif mencegah penyebaran HIV/AIDS. Kita justru harus berani mengatakan, bahwa wabah penyebaran HIV/AIDS adalah akibat seks bebas yang memang telah menjadi budaya Barat sekular, yang sengaja tengah disebarkan ke Dunia Islam, bukan karena tidak digunakannya kondom dalam hubungan seks. Di Dunia Barat, para orangtua tidak pernah melarang anaknya untuk melakukan hubungan seks bebas, dengan catatan, harus menggunakan kondom atau sejenisnya. Sebab, seks bebas memang telah menjadi bagian dari gaya hidup Barat sekular. Gaya hidup seperti ini pula sesungguhnya yang ingin disebarluaskan oleh mereka ke Dunia Islam. Caranya antara lain dengan dibukanya lebar-lebar pintu pornografi dan pornoaksi, legalisasi aborsi, dan program “kondomisasi”-termasuk pendirian sejumah ATM Kondom-yang lebih banyak ditujukan kepada mereka yang bukan pasangan suami-istri.

Wahai kaum Muslim:

Ingatlah, maraknya pornografi dan pornoaksi serta seks bebas sekarang ini adalah akibat diterapkannya sistem sekular, yang mengadopsi demokrasi dan HAM, yang memang telah menjamin kebebasan manusia dalam segala bidang, khususnya kebebasan berperilaku. Karena itu, sudah selayaknya umat Islam mencabut sistem sekular seperti saat ini, yang nyata-nyata telah menimbulkan banyak persoalan kemanusiaan. Kita harus sadar, bahwa sistem sekular telah gagal dalam menyelesaikan berbagai persoalan kemanusiaan, termasuk mewabahnya HIV/AIDS. Karena itu, sudah saat kaum Muslim segera kembali pada sistem kehidupan islami; sudah saatnya kita kembali pada tatanan kehidupan yang didasarkan pada pada syariat Islam. Sebab, hanya Islamlah satu-satunya solusi bagi seluruh persoalan kehidupan manusia; hanya sistem hukum Islamlah yang terbaik bagi umat manusia. Renungkanlah kembali firman Allah SWT:

]أَفَحُكْمَ الْجَاهِلِيَّةِ يَبْغُونَ وَمَنْ أَحْسَنُ مِنَ اللهِ حُكْمًا لِقَوْمٍ يُوقِنُونَ[

Apakah hukum Jahiliah yang mereka kehendaki. Siapakah yang lebih baik hukumnya daripada Allah bagi orang-orang yang yakin? (QS al-Maidah [5]: 50).

Karena itu, marilah kita segera mematuhi seruan Allah SWT, sebagaimana firman-Nya:

]اسْتَجِيبُوا لِرَبِّكُمْ مِنْ قَبْلِ أَنْ يَأْتِيَ يَوْمٌ لاَ مَرَدَّ لَهُ مِنَ اللهِ مَا لَكُمْ مِنْ مَلْجَأٍ يَوْمَئِذٍ وَمَا لَكُمْ مِنْ نَكِيرٍ[

Patuhilah seruan Tuhan kalian sebelum datang dari Allah suatu hari yang tidak dapat ditolak kedatangannya. Kalian tidak memperoleh tempat berlindung pada hari itu dan tidak pula dapat mengingkari (dosa-dosa kalian). (QS asy-Syura [42]: 47). []

Iklan

Sana`a (ANTARA News) – Pada masa keemasan Islam yang dipimpin oleh tokoh-tokoh Muslim yang sebagian besar dari bangsa Arab, sumber ilmu pengetahuan hampir seluruhnya berasal dari timur (negeri Muslim).

Barat yang masih dalam masa kegelapan kala itu belajar banyak ilmu dari Arab seperti kedokteran, ilmu aljabar, ilmu astronomi, kimia, fisika, politik, sosial, psikologi dan sejumlah disiplin ilmu lainnya.

Apakah termasuk juga pendidikan seksual yang saat ini masih tabu dibicarakan secara terbuka di kalangan masyarakat Arab?


Menurut DR Fauziah Al-Dare, pendidikan seksual berkualitas secara Islami berasal dari kawasan Arab yang kemudian juga dicontoh masyarakat Barat.

“Pendidikan seksual juga dari Arab, seperti ilmu-ilmu lain layaknya aljabar dan kimia. Buktinya, Dewan Senat Inggris pernah melarang penerjemahan pendidikan seksual Arab ke dalam bahasa Inggris pada tahun 1865,” kata perempuan doktor spesialis pendidikan seksual asal Kuwait itu kepada TV Alarabiya, Dubai Jumat (30/3).

Dalam paket acara “idha`at” (sorotan) yang disiarkan langsung setelah shalat Jumat itu, doktor tamatan Fakultas Ilmu Jiwa Jurusan Pendidikan Seksual di Universitas York, Inggris, tersebut menilai bahwa Islam adalah agama yang paling banyak mengupas tentang pendidikan seks.

Paket acara TV Arabiya tersebut dikhususkan untuk mengupas berbagai isu yang menjadi sorotan publik Arab. “Pada tahun 1850, ditemukan sebuah buku bahasa Arab yang mengupas tentang seks di Prancis, lalu diterjemahkan ke dalam bahasa Prancis,” katanya lagi.

DR. Fauziah yang membahas tentang pendidikan seks lewat paket tetapnya bertajuk “siratul hub” (biografi cinta) di TV Alraai, Kuwait menimbulkan pro-kontra di kalangan masyarakat negaranya.

Salah satu tema yang pernah dibahas dalam paket itu yang mendapat reaksi dari media massa setempat adalah tentang besar dan panjangnya alat vital laki-laki. Tapi, sang doktor tetap tidak bergeming, dan menilai apa yang disampaikannya masih sebatas koridor syariat Islam.

Pakar seks Arab yang sekarang selalu memakai jilbab itu, yang menyelesaikan S2 di Amerika Serikat (AS), juga menjelaskan masa-masa studinya di negeri Paman Sam tersebut dan kehidupan pribadinya sebelum memakai jilbab.

Tentang program “siratul hub” yang dibawakannya, ia menjelaskan bahwa bertujuan memberikan pemahaman kepada publik agar tidak terpengaruh iklan-iklan yang menyesatkan.

“Saya melihat beberapa iklan di majalah tentang alat vital pria, karena itu saya perlu mengupasnya dalam salah satu tema program tersebut agar jelas bagi publik bahwa ukuran alat vital tidaklah sebagai ukuran kepuasan hubungan seksual,” katanya.

Fauziah menegaskan bahwa tema tentang alat vital itu merupakan yang paling sulit dibawakannya dalam paket program rutin biografi cinta.

“Yang jelas, saya melihat publik semakin mengerti permasalahan ini,” katanya lagi.

Meskipun pengupasan tentang pendidikan seks secara terbuka di masyarakat Kuwait dan Arab umumnya masih tabu, namun ia menegaskan, akan tetap melanjutkan program rutinnya “siratul hub”, karena keyakinan akan pentingnya pendidikan yang satu ini bagi publik Arab. (*)

Budaya Seks Bebas dan Penyebaran Wabah Penyakit


“Tidak merajalela tindak asusila di tengah suatu kaum sampai mereka mengeksposnya kecuali akan mewabah di tengah-tengah mereka berbagai macam penyakit dan virus mematikan yang belum pernah ada pada kaum-kaum sebelum yang telah berlalu sebelum mereka…”

Hadist ini diriwayatkan oleh Ibnu Majah dalam sunan Ibnu Majah (Kitab Al Fitan) dengan redaksi sebagai berikut.

Kami mendapat hadist dari Mahmud ibn Khalid Ad-Dimasq; tuturnya: kami mendapat hadist dari Sulaiman bin Abdurrahman Abu Ayyub, dari Ibn Abu Malik, dari bapaknya, dari Adha’ bin Abu Rabbah, dari Abdullah bin Umar, ia mengatakan:

Rasulullah menghadap ke arah kita seraya berseru: “Wahai kaum Muhajirin, ketahuilah 5 hal yang apabila kalian diuji oleh Allah SWT dengannya, tentu kalian akan rusak dan binasa. Aku berlindung kepada Allah agar kalian tidak menemui kelima hal tersebut. (1) Tidak merajalela tindak asusila di tengah suatu kaum sampai mereka mengeksposnya kecuali akan mewabah di tengah-tengah mereka berbagai macam penyakit dan virus mematikan yang belum pernah ada pada kaum-kaum sebelum yang telah berlalu sebelum mereka. (2) Mereka juga tidak mengurangi timbangan dan takaran kecuali mereka akan diazab selama bertahun-tahun, kehabisan persediaan makanan, dan dizalimi oleh penguasa tiran. (3) Mereka tidak menolak mengeluarkan zakat kecuali akan dicegah pula bagi mereka curah hujan dari langit dan jikalau tidak ada hewan ternak niscaya Allah benar-benar tidak akan menurunkan hujan bagi mereka. (4) Mereka tidak mencederai dan mengkhianati perjanjian dengan Allah dan rasulnya kecuali Allah akan memberikan kekuasaan pada musuh mereka pada mereka sehingga mereka merampas apa saja yang ada di tangan mereka. (5) penguasa mereka tidak menerapkan hokum sesuai kitab Allah dan memilah-milah apa yang diturunkan Allah kecuali Allah akan menimpakan bencana pada mereka (sunan Ibn Ma’jah: Kitab Al Fitan, Bab Al ‘Uqubat)

Ulasan hadits


Al-Fakhisyah (tindak asusila) adalah dosa besar yang termasuk tindak kemungkaran yang sangat keji dan menjijikan, misalnya hubungan seks di luar nikah dan hubungan sejenis (homo seksual atau lesbian), dan perilaku-perilaku seksual menyimpang lainnya yang bertentangan dengan fitrah yang suci dan berkaitan dengan penyalahgunaan tubuh manusia yang merupakan titipan amanat Allah bagi setiap orang yang akan diambil kembali oleh Allah.

Tubuh manusia mempunyai kehormatan dan kemuliaan yang bersumber dari kehormatan dan kemuliaan manusia yang dinyatakan Allah dengan firmannya:


Dan sesungguhnya telah kami muliakan anak-anak Adam, kami angkut mereka di daratan dan di lautan, kami beri mereka rizki dari yang baik-baik dan lebihkan dengan kelebihan yang sempurna atas kebanyakan mahluk yang telah kami ciptakan. (QS. Al Isra (17) : 70)


Karena itu tubuh manusia harus dimuliakan, entah selama hidup maupun setelah menjadi mayat. Perintah tegas pun dikeluarkan untuk menjaganya sekaligus larangan keras untuk menyakitinya, baik dengan menyalahgunakannya, melecehkannya, maupun menginjak-nginjak kehormatannya. Sebab pelecehan terhadap kehormatan tubuh sama artinya dengan penistaan kehormatan si pemilik tubuh. Dan ini jelas bertentangan dengan status terhormat manusia yang telah ditinggikan oleh Allah. Dari sinilah Al Qur’an melarang tegas upaya mendekati tindak asusila (perzinahan), baik terang-terangan maupun yang terselubung. Begitu juga hadist yang tengah kita bahas. Hal itu seperti memukul lonceng tanda peringatan dari bahaya penyebarluasan tindak asusila di dalam masyarakat hingga batas terang-terangan, dan siksaan Allah di dunia atas hal tersebut berupa mewabahnya berbagai jenis penyakit dan virus mematikan yang belum pernah ditemukan sebelumnya. Dan kejadian demi kejadian yang terpapar dewasa ini membuktikan ramalan Rasulullah pada 14 (empat belas) abad yang lalu.


Setelah gerakan zionisme dunia melegalkan penyebaran tindak asusila di masyarakat humanisme sebagai salah satu strategi untuk menghancurkan dan menguasai mereka: mulai tindak perzinahan (seks bebas), hubungan seks sejenis, anal seks, pernikahan sedarah (incest), juga minum minuman keras, perjudian, dan narkoba, hingga legalisasi tindak penyimpangan seksual dengan segala bentuknya yang menjijikkan, maka hal ini direspon cepat oleh parlemen-parlemen di negar Barat (house of commons, kongres AS, dan sejumlah parlemen di Negara Eropa) dan pemimpin-pemimpin Gereja Barat dengan memberikan pengakuan hak dan perlindungan hokum terhadap para penyimpang seksual untuk melakukan aktivitas di antara mereka yang begitu menjijikan dan bertentangan dengan fitrah, sehingga mereka dapat menikmati hak kebebasan mereka secara penuh, hingga mewarisi satu sama lain berdasarkan hubungan asusila ini. Kaum penyimpang seksual juga dinyatakan berhak memperoleh hak-hak yang dinikmati keluarga normal, berikut jaminan social, dan perlindungan Negara dengan segala perangkat hokum dan perundangan-undangannya, dan ahli genetic. Ahli genetic Barat yang menjustifikasi tindakan para penyimpang seksual ini. Sekarang ini mereka pun semakin berani menampilkan diri secara terang-terangan. Tanpa malu-malu lagi, mereka bahkan melakukan aksi long march dan demonstrasi yang diiringi dengan perbuatan asusila yang melecehkan kehormatan manusia dan melukai perasaan orang yang menyaksikannya.

Deklarasi tindakan keji ini telah mendorong semakin banyak lagi orang untuk bergabung dengan kereta setan mereka. Ada di antara mereka berstatus sebagai mentri, direktur, dokter, insinyur, dosen, pengajar, dan pemimpin tempat-tempat ibadah Yahudi dan Gereja Kristen, dan masih banyak lagi di antara mereka elite politik, masyarakat, agama, pendidikan, dan akademisi.

Mereka memiliki media massa yang mendukung penyimpangan mereka, melegalkan kelainan seksual mereka, dan memperjuangkan lebih banyak lagi hak bagi mereka. Mereka serang balik semua orang yang mengkritik tindakan bejat mereka, atau berusaha meluruskan mereka dan mengeluarkan mereka dari kubangan Lumpur kebusukan mereka. Mereka juga memeiliki berbagai perhimpunan, organisasi, dan klub-klub terbuka yang menghimpun setan-setan berbentuk manusia kotor dan busuk yang melawan dan menentang fitrah yang telah dianugrahkan Allah kepada mereka.

Mereka benar-benar telah merendahkan derajat mereka serendah-rendahnya hingga lebih rendah dari derajat binatang. Maka, Allah pun menghukum dan mengazab mereka dengan berbagai jenis penyakit penurunan kekebalan tubuh, misalnya penyakit ebola dan AIDS (Acquired Immuno Deficiency Syndrome – sindrom penurunan kekebalan tubu akut) yang belum pernah dikenal sebelumnya, persis sebagaimana kaum Luth yang disiksa Allah dengan siksaan yang belum pernah ditimpakan pada orang-orang sebelum mereka.


AIDS yang dikenal dengan sebutan kanker deviatif atau wabah ganas abad 20 adalah sebuah penyakit baru bagi manusia yang belum pernah ada dan ditemukan dalam sejarah manusia sebelumnya. Penyakit ini disebabkan oleh virus misterius yang mirip dengan sejumlah virus yang dikenal hanya menyerang hewan saja dan tidak menyerang manusia, meskipun secara genetic ia tidak ada kecocokan pula dengan virus-virus tersebut.


Mewabahnya virus terkutuk ini di era kebebasan seksual yang dilalui oleh umat manusia modern semakin menguatkan dan mempertegas asumsi bahwa penyebaran virus baru ini adalah azab dan siksa dari Allah.


Virus ini mulai menyerang dunia kotor di AS pada tahun 1978. hanya dalam tempo 3 tahun, hingga awal tahun 1981, jumlah penderita AIDS tercatat mencapai ambang puluhan. Dan sekarang, jumlah mereka pasti sudah mencapai puluhan juta jiwa yang tersebar di berbagai masyarakat libernitis di seluruh dunia. Utamanya, Negara-negara Barat yang mengaku dan mengklaim diri sebagai Negara maju dan berperadaban modern, disusul dengan Negara-negara Afrika Tengah dan Afrika Selatan yang memang Negara-negar terbelakang. Dan penyebab utama dalam kedua kondisi ini adalah keteralienasian dari agama yang benar. Jumlah penderita penyakit penurunan kekebalan di Amerika Serikat saja mencapai lebih dari sepuluh juta jiwa, sementara di Australia mencapai lebih dari satu juta jiwa.

Virus AIDS merupakan salah satu varian virus demam akut. Virus ini tersimpan dalam tubuh penderitanya sepanjang hidupnya dan menyerang sel darah putih yang merupakan media terpenting dalam system kekebalan tubuh. Virus ini selanjutnya akan melumpuhkan dan menghancurkan system kekebalan tubuh dalam sel darah putih satu persatu dan sedikit demi sedikit sehingga tubuh menjadi kehilangan sarana pertahanan alamiah yang terpenting dan membuatnya tidak berkutik sama sekali dalam mempertahankan diri dari resiko berbagai macam jenis penyakit keji, sampai akhirnya penderita meninggal setelah mengalami penderitaan yang sangat menyakitkan dalam kurun waktu yang dapat menjadi panjang atau pendek. Hal itu disebabkan oleh hancurnya system kekebalan tubuh secara total padahal ia merupakan alat pertahanan utama dalam tubuh yang sehat.

Di samping AIDS, ada beberapa lagi penyakit kelamin yang terjadi akibat hubungan seks bebas. Dan penyakit-penyakit ini juga menyebabkan rasa sakit yang terkirakan. Hingga saat ini, perusahaan-perusahaan farmasi belum mampu menemukan obat yang mampu membasmi virus AIDS ini. Upaya maksimal yang mampu dilakukan adalah memproduksi sejumlah analgesic yang hanya meredakan rasa sakit pada bagian-bagian tubuh penderita.


Musdah Mulia dan Para Penyimpang seksual


Homosek dan homoseksualitas adalah kelaziman dan dibuat oleh Tuhan, dengan begitu diizinkan juga dalam agama Islam, demikian salah satu ucapan Musdah Mulia dalam sebuah diskusi di Jakarta pada hari Kamis, 27 Maret 2008 kemarin.


“Tidak ada perbedaan antara lesbian dan tidak lesbian. Dalam pandangan Allah, orang-orang dihargai didasarkan pada keimanan mereka,” tegas Prof. Dr. Siti Musdah Mulia mengenai homoseksual yang dilakukan oleh lesbian, gay, biseksual dan transeksual – transgenital (LGBT).


Pendapat kontradiktif ini benar-benar membuat kaum Muslim terperanjat. Sebab ungkapan tersebut sama saja menghalalkan homoseksual yang tentunya telah dipahami bertentangan dengan fitrah manusia dan aturan Illahi. Namun, Musdah pun menyatakan dalam, “bila ada pengecaman terhadap homoseksual dan homoseksualitas oleh kalangan ulama arus utama dan kalangan kaum Muslim lainnya hanyalah didasarkan pada penafsiran sempit terhadap ajaran Islam.”


Terhitung empat tahun sudah para aktivis liberalisme menggaungkan tanpa sungkan dalam memperjuangkan legalisasi homoseksualitas di Indonesia. Hal ini terbukti dengan adanya buku dari kumpulan artikel dari Jurnal Justisia Fakultas Syariah IAIN, Semarang, edisi 25, cetakan I, tahun 2004 dengan judul Indahnya Kawin Sesama Jenis: Demokratisasi dan Perlindungan Hak-Hak Kaum Homoseksual.

Buku tersebut bahkan memuat strategi untuk melegalkan perkawinan homoseksual yaitu dengan jalan ; 1). Mengorganisir kaum homoseksual untuk bersatu dan berjuang merebut hak-haknya yang telah dirampas oleh Negara. 2). Memberi pemahaman kepada masyarakat bahwa apa yang terjadi pada diri kaum homoseksual adalah sesuatu yang normal dan fitrah, sehingga masyarakat tidak mengucilkan dan justru ikut terlibat mendukung setiap gerakan homoseksual dalam menuntut hak-haknya. 3). Melakukan kritik dan reaktualisasi (tafsir kisah nabi Luth dan konsep pernikahan) yang tidak memihak kaum homoseksual. 4). Menyuarakan perubahan UU perkawinan no. 1/1974 yang mendefinisikan perkawinan harus antara laki-laki dan wanita.


Diterapkannya Islam secara menyeluruh dalam seluruh aspek kehidupan termasuk hubungan seksual, salah satunya adalah untuk mewujudkan ‘al-muhafazhatu ‘ala an-nasl’ yaitu pemeliharaan atas keturunan. Bisa kita bayangkan, bila homoseksual telah dilegalkan oleh Negara, maka penyimpangan seksual akan semakin menjadi-jadi dan the lost generation (hilangnya generasi) lambat laun akan terwujud karena tidak ada keturunan atau terjadi kematian (akibat penularan HIV/AIDS misalnya).


Islam sendiri justru memberi had liwath bagi pelaku homoseksual karena terkategori jarimah (kejahatan) yaitu mengingkari perintah Allah. Sanksi liwath berbeda dengan sanksi perzinaan. Namun syarat-syarat dijatuhkannya sanksi liwath adalah 1). Baligh, berakal dan tidak dipaksa – artinya dia telah sadar akan kesalahan dari perbuatannya. 2). Kegiatan liwath ditetapkan dengan pembuktian (al-bayinah) secara syar’i, yakni dengan iqrar (pengakuan) atau kesaksian dua orang laki-laki yang adil. Teknis had sendiri menurut para shahabat radiyallahu anhu, 1). Dibunuh dengan cara dirajam dengan batu, atau 2). Dibunuh kemudian dibakar, atau 3). Dilempar dari atas bangunan dengan keadaan terbalik lalu dilempari batu. Teknis ini berlaku kepada para pelaku (baik subyek maupun obyek) baik dia muhshan (menikah) atau ghayru muhshan (belum menikah).


Had liwath tersebut pada dasarnya adalah tindakan preventif bagi yang lain agar tidak mencoba-coba untuk menjadi kaum LGBT (homoseksual) dan bagi yang dihukum tentunya telah menyadari bahwa sanksi yang ia jalankan adalah sebagai penebus akan kesalahannya.

Jakarta – Truman Capote. Ia adalah penulis legendaris di Amerika Serikat (AS).  Ia seorang gay. Tapi semasa hidupnya banyak membuat karya spektakuler dalam menulis.

Nama Truman Capote melejit lewat karya adiluhungnya ‘In Cold Blood’, sebuah kisah nyata yang diangkat dari kasus pembunuhan berdarah dingin tahun 1959 yang terjadi di Holcomb, Kansas Barat.

Pria kelahiran New Orleans, 30 September 1942 ini punya keinginan  sangat dalam untuk menyajikan hasil reportase dalam bentuk novel.

Truman Capote juga  menuai sukses dari novel pertamanya Other Voices, Other Rooms sehingga menempatkan dirinya berada di papan atas penulis sastra Amerika.

Saat menggarap karya spektakulernya “In Cold Blood” Truman butuh waktu 6 tahun untuk mereportase kasus pembunuhan berdarah dingin yang paling sadis terjadi di AS tahun 1959. Buku setebal 474 halaman itu kemudian terpilih sebagai salah satu buku terbaik sepanjang masa versi Modern Library, April 1996.

Karena kesohornya buku tersebut, kisah penggarapan In Cold Blood difilmkan. Bahkan kisah hidup Truman Capote sendiri pun difilmkan dalam ‘Capote’ (2005) dan “Infamous’ (2006).

Sejumlah kesuksesan itu seolah menutup semua pandangan miring tentang orientasi seksual Truman Capote yang penyuka kaum sejenis.

Kisah lain seorang homoseksual yang tetap hidup ‘normal’ adalah Irshad Manji. Ia adalah seorang feminis muslim yang dengan terang-terangan mengaku lesbian. Ia meneriakkan protes keras terhadap pelanggaran atas nama Islam di kalangan perempuan dan kelompok minoritas termasuk kelompok homoseksual.

Melalui buku “Beriman Tanpa Rasa Takut: Tantangan Umat Islam Saat Ini”, Irshad coba melakukan protes keras atas ketidakadilan atas nama agama.

Hidup di keluarga Islam dengan superioritas seorang Ayah, Irshad tumbuh menjadi gadis yang tidak memimpikan laki-laki. Dididik dalam keluarga di mana perempuan diperlakukan dengan banyak hal yang pedih karena kekuasaan ayah yang sewenang-wenang, Irshad tidak menolak hubungan cinta sesama.

Tahun 1990, setelah lulus S-1 dengan penghargaan untuk bidang sejarah pemikiran dari University of British Columbia, Irshad yang secara terbuka mengatakan dirinya lesbian lebih banyak berkecimpung dalam dunia jurnalistik. Dia jadi pembawa acara (host) di Vision TV, lantas jadi produser dan host di City TV, Toronto. Pada usia 24 tahun, dia jadi editor di koran terbesar di Kanada, Ottawa Citizen.

Sejak Januari 2008 Irshad bergabung dengan New York University dan mendirikan serta memimpin The Moral Courage Project yang membantu generasi muda memperjuangkan kebenaran dan memberdayakan diri.

Pemikirannya yang kritis terhadap Islam ortodoks dan perjuangannya membela hak-hak asasi manusia—terutama di kalangan perempuan Muslim—membuat aktivis ini memperoleh banyak dukungan. Ia kemudian berhasil memperoleh  gelar doktor honoris causa dari Universtity of Washington, Mei tahun ini.

Tapi di sisi lain,  di mata kalangan Islam fundamental, Irshad Manji disebut tidak lebih dari seorang provokator yang menyebarkan tafsir setan atas Al Qur’an. Maka sikap kritis yang disuarakan Irshad itu harus ditebus dengan munculnya berbagai ancaman dari kalangan Muslim radikal.

Sebagian besar ancaman berasal dari Pakistan, Mesir, dan kelompok Muslim di Eropa, seperti Inggris, Perancis, dan Jerman. Bahkan rumahnya di Kanada dipasangi jendela antipeluru. Dengan kata lain, hidupnya saat ini sering dalam situasi bahaya. Itu sebabnya ia memilih tidak menikah dan punya anak.

Lalu bagaimana dengan Indonesia dengan kehadiran tokoh-tokoh gay?

Menurut Dodo, seorang tokoh gay di Indonesia, meski masih ada tindakan diskriminatif dari masyarakat terhadap seorang LGBT, tapi kondisinya  jauh lebih baik dibanding negara lain yang juga mayoritas penduduknya muslim.

Sementara Marcel, seorang gay yang bekerja sebagai konsultas di bidang kesehatan keluarga menjelaskan, sikap masyarakat Indonesia terhadap kalangan homoseksual maupun lesbian jauh lebih toleran di banding masyarakat Amerika. Sebab saat kuliah di Amerika, ia sering melihat tindak kekerasan anggota masyarakat Amerika terhadap kalangan homoseksual.

Masyarakat di sana menyebut mereka dengan sebutan “Gay Bashing”. Mereka adalah masyarakat Amerika yang anti gay. “Mereka sering memukuli dan menyiksa kalangan homoseksual di sana (AS). Kalau di Indonesia paling dikucilkan atau diledek saja,” jelas Marcel.(ddg/iy)

A. Pendahuluan

Sebagai hamba yang beriman dan bertaqwa kepada Allah SWT, maka marilah kita selalu bersyukur kepada-NYA. Jikalau bukan karena rahmat dan petunjuk dari-NYA, tentu kita sudah termasuk hamba yang merugi. Dan sesatlah kita di alam dunia ini. Diantara bentuk petunjuk yang Allah berikan kepada kita adalah, Ia turunkan al-Quran sebagai penerang jalan dan pembebas kita dari segala permasalahan yang kebanyakan dari kita tidak bisa menyelesaikannya. Maka datanglah al-Quran sebagai pelita penerang itu.

Shalawat berangkai salam taklah lupa kiranya kita persembahkan kepada Rasul junjungan umat Islam di alam ini. Beliaulah Rasulullah SAW. Dengan perantaraan beliau jugalah kita dapat merasakan kehidupan secara Islami hingga saat ini. Dengan petunjuknya juga, maka dapatlah insan dengan mudah memahami apa yang tersirat di dalam al-Quran. Sungguh, beliau adalah insan yang utama dan termulia di dunia ini dan di akhirat nanti.

Berbicara masalah poligami, maka kita akan dihadapkan kepada sebuah permasalahan yang cukup pelik dan butuh kepada pemahaman nas yang mantap yang terdapat di dalam al-Quran dan hadits-hadits Nabi SAW. Pemahaman yang penulis maksudkan adalah pemahaman yang benar-benar sesuai dengan pemahaman salaful ummah. Bukan pemahaman yang didengung-dengungkan oleh sebagian orang yang tak memahami nas dan tak pula menempatkan dalil pada tempatnya.

Sebenarnya poligami ini tidaklah menjadi wacana baru yang terjadi di kehidupan anak manusia. Semenjak dahulu kala, poligami ini juga telah ada. Namun pelaksanaannya saja yang kurang bagus dan sangat jauh dari nilai kemaslahatan. Yang penulis maksudkan adalah, kebanyakan praktek poligami yang terjadi sebelum datangnya Islam, seolah-olah merendahkan martabat kaum hawa. Dimana seorang pria bebas menentukan jumlah wanita yang ingin ia peristri dan bebas pula ia ceraikan kapan saja. Sungguh sangat keterlaluan. Maka dengan datangnya Islam, diaturlah kesenjangan itu. Sungguh Islam tidak melarang poligami. Bahkan Islam memberikan teori yang paling relevan dan sangat cocok dengan kehidupan manusia. Lanjut Baca »

Jakarta Beberapa kali pose seksi Sarah Azhari tersebar di media ternyata berpengaruh pada kejiwaan anak tunggalnya. Sarah mengaku kini anak lelakinya trauma.

Menurut adik kandung Ayu Azhari itu putranya Albani takut ketika melihat lampu kamera. Hal itu bermula ketika foto-foto Sarah yang diambil oleh kamera tersembunyi di kamar mandi beredar tahun 2003 silam.

“Ya dia trauma saat foto-foto aku yang waktu di kamar mandi itu dicuri. Kan muncul tuh di koran-koran. Teman-temannya banyak yang nanya. Ya tapi kataku ‘Ya mau bagaimana lagi nak?’,” ujarnya saat berbincang dengan detikhot di Cafe Pisa Menteng, Selasa (29/7/2008).

Untungnya masalah yang dialami Albani tidak berkepanjangan. Anak laki-laki 8 tahun itu kini juga mulai kritis terhadap penampilan sang mama. Tak jarang Albani memprotes penampilan Sarah jika ia rasa terlalu seksi.

“Katanya kurang comfortable kalau aku pakai kayak gitu,” ujar Sarah lagi.

Walaupun begitu belum ada keinginan Sarah untuk mengubah gaya berpakaiannya. Namun menurutnya akan ada waktunya ia meninggalkan semua pakaian seksinya.(kee/kee)


Oleh
Abu Hafsh Usamah bin Kamal bin Abdir Razzaq

PERTANYAAN APAKAH SUAMI ISTERI WAJIB MANDI SETELAH JIMA, WALAUPUN TIDAK MENGALAMI ORGASME?

Jawaban
Ya, keduanya wajib mandi, baik mengalami orgasme maupun tidak, berdasarkan hadits dari Abu Hurairah Radhiyallahu ‘anhu, bahwa Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:

“Jika seseorang duduk di antara empat anggota tubuh wanita (menindihnya) kemudian menggaulinya, maka ia wajib mandi.”

Dalam lafazh Muslim.

“Walaupun tidak mengalami orgasme (keluar mani).” [1]

Ini menegaskan tentang wajibnya mandi, walaupun tidak mengalami orgasme. Hal ini tidak diketahui oleh banyak manusia. Oleh karena itu mereka wajib menyadari akan hal itu. [2]

PERTANYAAN APAKAH ISTERI WAJIB MANDI?

Apakah isteri saya wajib mandi janabah pada saat dimasuki ketika bersetubuh, tetapi tanpa orgasme dalam rahim. Apakah dia wajib mandi ketika sperma masuk dalam rahimnya, ataukah dia cukup mencuci tubuhnya dan anggota tubuhnya saja?

Jawaban
Ya, dia wajib mandi jika dimasuki walaupun sedikit; berdasarkan hadits:

“Jika seseorang duduk di antara empat anggota tubuh wanita (menindihnya) kemudian menggaulinya, maka ia wajib mandi, meskipun tidak mengalami orgasme.”

Dan hadits.

“Jika dua kemaluan telah bertemu, maka wajib mandi.” [3]

Demikian pula dia wajib mandi seandainya sperma masuk ke dalam rahim, karena dimasuki dan mengalami orgasme pada umumnya. Tetapi cukup dengan berwudhu’ jika hanya sekedar bersentuhan tanpa memasukinya. [4]


PERTANYAAN TENTANG HUKUM MANDI BAGI SUAMI ISTERI

Seseorang duduk di antara empat enggota tubuh isterinya dan dua kemaluan bersentuhan tanpa memasuki, kemudian orgasme di luar kemaluan, apakah keduanya wajib mandi?

Jawaban
Laki-laki wajib mandi karena telah orgasme. Adapun wanita tidak wajib mandi. Karena syarat wajibnya mandi ialah memasuki. Seperti diketahui bahwa letak khitan ialah pucuk penis hingga sekitar pergelangan penis. Jika memang demikian, maka tidak bisa menyentuh tempat khitan wanita kecuali setelah pucuk penis memasukinya. Karena itu, kita mensyaratkan tentang wajibnya mandi karena persetubuhan bila pucuk kemaluan telah masuk. Disinyalir pada sebagian lafazh (redaksi) hadits ‘Abdullah bin ‘Amr bin al-‘Ash:

“Jika dua khitan (atau kemaluan) telah bertemu dan pucuk penis telah masuk, maka wajib mandi.” [5]

Pertanyaan : Tentang Hukum Keluarnya Air Kencing Bersama Sisa-Sisa Mani
Seseorang mencampuri isterinya kemudian mandi. Setelah itu, keluar sisa-sisa mani bersama air kencing; apakah dia harus mandi lagi?

Jawaban
Orang yang telah mandi janabah kemudian mani keluar darinya setelah mandi, maka dia sudah cukup dengan mandinya tersebut dan ia tidak wajib mandi lagi. Ia hanya wajib beristinja dan berwudhu’, wa billaahit taufiiq. [6]

PERTANYAAN TENTANG HUKUM MANDI DARI JANABAH

Seorang teman memberitahukanku bahwa jika seorang muslim menyetubuhi isterinya, maka dia harus buang air kecil sebelum mandi. Jika tidak, maka ia masih tetap junub. Karena cairan mani dalam kemaluan tidak bisa dihilangkan kecuali oleh air kencing, sebagaimana yang dia katakan. Lalu apa pendapatmu yang mulia?

Jawaban
Bahkan mandinya telah sah, meskipun tidak buang air kecil. Jika dia buang air kecil setelah itu dan mani keluar sedikit dengan sendirinya atau bersama air kencing tanpa syahwat, maka ia tidak wajib mandi untuk kedua kalinya, tapi cukup beristinja dan berwudhu’, wa billaahit taufiiq.

PERTANYAAN TENTANG MENCAMPURI ISTERI SETELAH MELAHIRKAN

Jika wanita yang hamil melahirkan dan (setelahnya) tidak mengeluarkan darah, apakah suaminya halal untuk menyetubuhinya, dan apakah dia harus shalat dan berpuasa ataukah tidak?

Jawaban
Jika wanita yang hamil melahirkan dan (setelahnya) tidak mengeluarkan darah, maka dia wajib mandi, shalat dan berpuasa, serta suami boleh menyetubuhinya setelah dia mandi. Karena pada umumnya, dalam melahirkan itu darah akan keluar walaupun sedikit, bersama bayi yang dilahirkan atau sesudahnya. [7]

PERTANYAAN TENTANG MENCAMPURI ISTERI BEBERAPA WAKTU SETELAH MELAHIRKAN
Apakah laki-laki boleh menyetubuhi isterinya selang 30 hari atau 25 hari setelah melahirkan, ataukah tidak kecuali setelah 40 hari? Karena saya mendengar sebagian orang mengatakan bahwa itu tergantung kemampuan isteri. Sebagian lainnya mengatakan: “Harus sempurna 40 hari.” Saya tidak tahu mana yang paling benar. Oleh karena itu, beritahukanlah kepadaku, semoga Allah mem-balasmu dengan sebaik-baik balasan.

Jawaban
Tidak boleh seorang pria menyetubuhi isterinya setelah melahirkan pada hari-hari nifasnya hingga sempurna 40 hari sejak tanggal kelahiran. Kecuali bila darah nifas berhenti se-belum 40 hari, maka ia boleh menyetubuhinya pada waktu darahnya telah terhenti dan setelah mandi. Jika darah keluar kembali sebelum 40 hari, maka haram menyetubuhinya pada waktu tersebut. Dan ia harus meninggalkan puasa dan shalat hingga sempurna 40 hari atau terhentinya darah, wa billaahit taufiiq. [8]

PERTANYAAN TENTANG MENGGAULI WANITA YANG KANDUNGANNYA KEGUGURAN
Di tengah-tengah kami ada seorang wanita yang keguguran kandungan tanpa sebab; apakah suami meneruskan bercampur ber-samanya secara langsung ataukah berhenti selama 40 hari?

Jawaban
Jika janin telah terbentuk, yaitu tampak anggota tubuhnya berupa tangan, kaki, atau kepala, maka ia haram me-nyetubuhinya selagi darah keluar hingga 40 hari, dan ia boleh me-nyetubuhinya pada saat darah berhenti selama masa-masa 40 hari tersebut setelah mandi. Adapun jika tidak tampak anggota tubuhnya dalam janinnya, maka ia boleh menyetubuhinya walaupun ketika darah tersebut turun, karena tidak dianggap sebagai darah nifas, tetapi darah kotor. Ia tetap mengerjakan shalat dan berpuasa serta suaminya halal menyetubuhinya. Ia harus berwudhu’ pada tiap-tiap shalat. [9]

[Disalin dari kitab Isyratun Nisaa Minal Alif Ilal Yaa, Edisi Indonesia Panduan Lengkap Nikah Dari A Sampai Z, Penulis Abu Hafsh Usamah bin Kamal bin Abdir Razzaq, Penterjemah Ahmad Saikhu, Penerbit Pustaka Ibnu Katsair]

_________
Foote Note

[1]. HR. Al-Bukhari (no. 291) kitab al-Ghusl, Muslim (no. 348) kitab al-Haidh, an-Nasa-i (no. 191) kitab ath-Thahaarah, Abu Dawud (no. 216) kitab ath-Thahaarah, Ibnu Majah (no. 610) kitab ath-Thahaarah wa Sunanuhaa, Ahmad (no. 9733) ad-Darimi (no. 761) kitab ath-Thahaarah.

[2]. Dinisbatkan oleh penulis buku Fataawaa al-‘Ulamaa’ fii ‘Isratin Nisaa’ (hal. 36) kepada Majmuu’ Rasaa-il, karya Syaikh al-‘Utsaimin.

[3]. HR. Muslim (no. 349) kitab al-Haidh, at-Tirmidzi (no. 108) kitab ath-Thahaarah, Ibnu Majah (no. 608) kitab ath-Thahaarah wa Sunanuhaa, Ahmad (no. 3686), Malik (no. 104) kitab ath-Thahaarah.

[4]. Dinisbatkan oleh penulis kitab Fataawaa al-‘Ulamaa’ fii ‘Isyratin Nisaa’ (hal. 37), kepada Fataawaa al-Mar-ah.

[5]. Dinisbatkan oleh penulis kitab Fataawaa al-‘Ulamaa’ fii ‘Isyratin Nisaa’ (hal. 38), kepada Majmuu’ Fataawaa wa Rasaa-il karya Syaikh Ibnu ‘Utsaimin.

[6]. Dinisbatkan oleh penulis buku Fataawaa al-‘Ulamaa’ fii ‘Isyratin Nisaa’ (hal. 40), kepada Fataawaa al-Lajnah ad-Daa-imah lil Iftaa’.

[7]. Fataawaa al-Lajnah ad-Daa-imah lil Iftaa’, yang dinukil dari Fataawaa al-‘Ulamaa’ fii ‘Isyratin Nisaa’ (hal. 41).

[8]. Fataawaa al-Lajnah ad-Daa-imah lil Iftaa’ yang dinukil dari Fataawaa al-‘Ulamaa fii ‘Isyratin Nisaa’ (hal. 43).

[9]. Fataawaa al-Lajnah ad-Daa-imah lil Iftaa’ yang dinukil dari Fataawaa al-‘Ulamaa’ fii ‘Isyratin Nisaa’ (hal. 44).